Laman

Minggu, 22 April 2012

Hakikat Manusia Sebagai Mahluk Budaya


1.     Hakikat manusia sebagai mahluk budaya
Hakikat manusia sebagai mahluk budaya, karena manusia mempunyai tingkatan yang lebih tinggi sebagaimana makhluk hidup, manusia juga mempunyai akal yang dapat memperhitungkan tindakannya yang kompleks melalui proses belajar yang terus-menerus. Selain itu manusia dikatakan pula sebagai makhluk budaya. Budaya diartikan sebagai pikiran atau akal budi. Manusia juga harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia dapat membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara kewajiban dan yang bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan harmonis dan seimbang.

2.      Apresiasi terhadap kemanusiaan dan kebudayaan
Budaya atau kebudayaan dipahami sebagai tri potensi manusia, yakni berfikir, berkemauan dan berperasaan yang terjelma dalam kumpulan ilmu pengetahuan, kaidah-kaidah sosial dan kesenian. Dalam pengertian ini tergambar adanya proses yang menjadikan manusia – individu dan masyarakat sebagai wadah pembentukan potensi yaag dijelmakan dalam bentuk logika, etika dan estetika. Oleh karena itu, perlu adanya pelestarian dalam hal aplikasi seni budaya. Pada taraf global budaya sangat menentukan cirri khas, bahkan menunjukkan identitas suatu daerah tertentu. Maka dari itu, masyarakat secara bersama dan individu harus menjadi agen tunggal yang menjadi proses penyebaran budaya sekaligus mempertahankan eksistensi keberadaan budaya itu sendiri. 

Manusia sebagai makhluk sosial terikat dengan lingkungannya. Ikatannya adalah kebudayaan yang diperoleh melalui proses belajar. Proses belajar dimungkinkan karena dalam kebudayaan terdapat sejumlah kaidah, aturan dan kategori, yang dapat diketahui melalui pengalaman dan pengamatan terhadap Ungkungan sosial. Selanjutnya, pencocokan dengan pengetahuan yang sudah diketahui sebehunnya, dan akhimya interpretasi dengan kembali mengadakan sistematisasi dan kategorisasi. 

3.      Etika dan estetika berbudaya
Etika berbudaya mengandung tuntutan bahwa budaya yang diciptakan harus mengandung niali-nilai etik yang bersifat universal. Meskipun demikian suatu bidaya yang dihasilkan memenuhi nilai-nilai etik atau tidak bergantung dari paham atau ideologi yang diyakini oleh masyarakat.

Estetika dapat dikatakan sebagi teori tentang keindahan atau seni, Estetika berkaitan dengan nilai indah-jelek.

4.      Memanusiakan manusia
Pendidikan seharusnya ’memanusiakan manusia’ bukan membuat ’manusia robot’yang harus selalu membuat sesuatu dan terus membuat sesuatu.  Kalau prestasi hanya selalu diukur dari seberapa banyak tulisan yang telah masuk jurnal, berapa banyak paten yang telah dibuat, atau berapa banyak proyek yang telah diselesaikan, buang saja hati nurani, ganti saja  dengan mesin yang tidak pernah tidur. Sampai tiba saatnya aus dan harus dibuang untuk diganti dengan mesin yang baru. Pendidikan seharusnya membuat seseorang bisa maju, lebih maju daripada sebelumnya. 

Prestasi dicapai manakala seseorang merasa puas untuk sementara  dengan pencapaiannya, karena ia sudah moving on dari ’tidak bisa’ menjadi ’bisa’. Tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, karena setiap orang memiliki karakter yang berbeda.  Kalau begitu kompetisi tidak perlu?? Tetap perlu dong...tapi dalam takaran yang proporsional, artinya masih dalam batas-batas yang bisa memotivasi seseorang untuk berprestasi, bukan untuk membuat frustasi.
  
5.      Problematika Kebudayaan
Adalah sesuatu yang indah jika kebudayaan yang merupakan harta yang turun temurun dari nenek moyang kita, dapat kita pertahankan kelestariannya. Tapi perkembangan jaman tidak dapat dibendung, seiring dengan berjalanya waktu, maka kelestarian kebudayaan tersebut harus dijaga karena kebudayaan hanyalah identitas diri dan merupakan identitas bangsa. Bangsa yang memiliki identitas akan menjadi bangsa yang kuat dan menjadi bangsa yang tidak mudah untuk dijajah oleh bangsa lain. 

Problematika kebudayaan sangat berbahaya jika dibiarkan, karena kebudayaan merupkan jati diri bangsa, bila itu hilang maka dengan sangat mudah bangsa itu akan hancur dan dijajah oleh bangsa lain. Oleh sebab itu bagaimanapun juga caranya kita harus mempertahankan identitas bangsa kita yaitu kebudayaan. Mulailah dengan mencintai kebudayaan daerah, dan serukan dalam hati yaitu :
I Love Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar